Jasaukur.com – Jasa konsultan side scan sonar SSS dan batimetri || Bangunan  utama  dapat  didefinisikan  sebagai :  “semua  bangunan  yang direncanakan  di  sungai  atau  aliran  air  untuk  membelokkan  air  ke  dalam jaringan  irigasi,  biasanya  dilengkapi  dengan kantong lumpur agar bisa mengurangi kandungan sedimen yang berlebihan serta  memungkinkan  untuk mengukur dan mengatur air yang masuk”.

Pengaliran air dari sumber air berupa sungai atau danau  ke  jaringan  irigasi untuk keperluan irigasi pertanian, pasokan air baku dan keperluan lainnya yang memerlukan suatu bangunan disebut dengan bangunan utama. Untuk  kepentingan  keseimbangan  lingkungan  dan  kebutuhan  daerah  di  hilir bangunan  utama,  maka  aliran  air  sungai  tidak  diperbolehkan  disadap seluruhnya. Namun harus tetap dialirkan sejumlah 5% dari debit yang ada.

Salah  satu  bangunan  utama  yang  mempunyai  fungsi  membelokkan  air  dan menampung  air  disebut  bendungan,  yang  kriteria  perencanaannya  tidak tercakup dalam kriteria ini. Kriteria  perencanaan  bendungan  dan  bangunan  pelengkap  lainnya  akan dipersiapkan secara terpisah oleh institusi yang berwenang. Terdapat 6 (enam) bangunan utama yang sudah pernah atau sering dibangun di Indonesia, antara lain:

JENIS JENIS BENDUNG

1)  Bendung Tetap

2)  Bendung Gerak Vertikal

3)  Bendung Karet (bendung gerak horizontal)

4)  Bendung Saringan Bawah

5)  Bedung Pengambilan Bebas

6)  Bendung Tipe Gergaji

Bendung modullar di Morotai (Kementerian PUPR)

Evaluasi Lokasi – jasa side scan sonar dan jasa survey batimetri.

Penempatan Bendung Lokasi  penempatan  bendung  dievaluasi  berdasarkan  kondisi  tanah  dan fungsinya dengan teliti.

Lokasi bangunan bendung dan pemilihan tipe yang paling cocok dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu:

(a)  Tipe, bentuk dan morfologi sungai

(b)  Kondisi hidrolis anatara lain elevasi yang diperlukan untuk irigasi

(c)  Topografi pada lokasi yang direncanakan,

(d)  Kondisi geologi teknik pada lokasi,

(e)  Metode pelaksanaan

(f)  Aksesibilitas dan tingkat pelayanan

Faktor – factor  yang  disebutkan di  atas  akan dibicarakan dalam pasal – pasal berikut. Pasal terakhir akan memberikan tipe – tipe bangunan yang cocok untuk digunakan sebagai bangunan bendung dalam kondisi yang berbeda – beda.

konsultan survey kelautan || Syarat – syarat Penentuan Lokasi Bendung

Aspek yang mempengaruhi dalam pemilihan lokasi bendung adalah:

Lembah  sungai  yang  sempit  berbentuk  huruf  V  dan  tidak  terlalu  dalam adalah  lokasi  yang  ideal  untuk lokasi bendung, karena pada  lokasi ini volume  tubuh  bendung  dapat menjadi minimal. Lokasi seperti  ini  mudah didapatkan pada daerah pegunungan, tetapi di daerah datar dekat pantai tentu  tidak  mudah  mendapatkan  bentuk  lembah  seperti  ini.

Di  daerah transisi (middle reach) kadang-kadang dapat ditemukan disebelah hulu kaki bukit. Sekali ditemukan lokasi  yang  secara  topografis  ideal  untuk  lokasi bendung,  keadaan topografi di daerah tangkapan  air  juga  perlu  dicek. Apakah topografinya terjal sehingga  mungkin terjadi longsoran  atau tidak.

Topografi juga harus dikaitkan dengan karakter hidrograf banjir, yang akan mempengaruhi  kinerja  bendung.  Demikian  juga  topografi  pada  daerah calon sawah harus dicek. Yang paling dominan adalah pengamatan elevasi hamparan  tertinggi  yang  harus  diairi.

Analisa  ketersediaan  selisih  tinggi energi antara elevasi puncak bendung pada lokasi terpilih dan elevasi muka air pada sawah tertinggi dengan keperluan energi  untuk membawa air ke sawah  tersebut  akan  menentukan  tinggi  rendahnya  bendung  yang diperlukan. Atau kalau perlu menggeser ke hulu atau ke hilir dari  lokasi yang  sementara  terpilih. Hal ini dilakukan mengingat tinggi bendung sebaiknya dibatasi  6-7  m.  Bendung  yang  lebih  tinggi  akan  memerlukan kolam olak ganda (double jump).

Topografi dipilih lembah sempit dan tidak terlalu dalam dengan mempetimbangkan  topografi  di  daerah  tangkapan  air  maupun  daerah layanan irigasi.

  • Kemantapan geoteknik fondasi bending

Keadaan geoteknik  fondasi bendung harus terdiri dari formasi batuan yang baik  dan  mantap.  Pada  tanah  aluvial  kemantapan  fondasi  ditunjukkan dengan  angka  standar  penetration  test  (SPT)>40.  Bila  angka  SPT<40 sedang batuan keras jauh dibawah permukaan, dalam batas-batas tertentu dapat  dibangun  bendung  dengan  tiang  pancang. Namun kalau tiang pancang terlalu dalam dan mahal sebaiknya dipertimbangkan pindah lokasi.

Stratigrafi  batuan  lebih  disukai  menunjukkan  lapisan  miring  ke  arah  hulu. Kemiringan ke arah hilir akan mudah terjadinya kebocoran dan erosi buluh. Sesar  tanah  aktif  harus  secara  mutlak  dihindari,  sesar  tanah  pasif  masih dapat  dipertimbangkan  tergantung  justifikasi  ekonomis  untuk  melakukan perbaikan fondasi.

Geoteknik  tebing  kanan  dan  kiri  bendung  juga  harus  dipertimbangkan terhadap kemungkinan bocornya air melewati sisi kanan dan kiri bendung. Formasi  batuan  hilir  kolam  harus  dicek  ketahanan  terhadap  gerusan  air akibat energi sisa air yang tidak bisa dihancurkan dalam kolam olak.

Akhirnya  muara  dari  pertimbangan  geoteknik  ini  adalah  daya  dukung fondasi  bendung  dan  kemungkinan  terjadi  erosi  buluh  dibawah  dan samping tubuh bendung, serta ketahanan batuan terhadap gerusan.

  • Pengaruh hidraulik

Keadaan hidraulik  yang  paling  ideal  bila  ditemukan  lokasi  bendung  pada sungai yang  lurus. Pada lokasi ini arah aliran sejajar, sedikit arus turbulen, dan kecenderungan gerusan dan endapan tebing kiri kanan relatif sedikit. Dalam  keadaan  terpaksa,  bila  tidak ditemukan  bagian  yang  lurus,  dapat ditolerir  lokasi  bendung  tidak  pada  bagian  sungai  yang  lurus  betul.

Perhatian khusus harus diberikan pada posisi bangunan pengambilan yang harus  terletak  pada  tikungan  luar  sungai. Hal  ini  dimaksudkan  agar pengambilan  air  irigasi  bisa  lancar masuk ke intake dengan mencegah adanya endapan didepan pintu  pengambilan.  Maksud  ini  akan  lebih ditunjang  apabila  terdapat  bagian  sungai  yang  lurus  pada  hulu  lokasi bendung.

Kadang-kadang  dijumpai  keadaan  yang  dilematis.  Semua  syarat-syarat pemilihan  lokasi  bendung sudah terpenuhi,  tetapi  syarat  hidraulik  yang kurang  menguntungkan.  Dalam  keadaan  demikian  dapat  diambil  jalan kompromi  dengan  membangun  bendung  pada  kopur  atau  melakukan perbaikan  hidraulik  dengan  cara  perbaikan  sungai  (river  training).  Kalau alternatif kopur  yang dipilih  maka bagian  hulu bendung pada kopur  harus lurus dan cukup panjang untuk mendapatkan keadaan hidraulis yang cukup baik.

Hidraulik yang dipilih bagian sungai yang lurus. Jika bagian sungai lurus tidak didapatkan, lokasi bendung ditolerir pada belokan sungai; dengan syarat posisi bangunan intake  harus terletak pada tikungan luar dan terdapat bagian sungai yang lurus di hulu bendung. Kalau yang terakhir inipun tidak terpenuhi perlu  dipertimbangkan  pembuatan  bendung  di  kopur  atau dilakukan rekayasa perbaikan sungai (river training).

  • Pengaruh regime sungai

Regime  sungai  mempunyai  pengaruh yang cukup dominan dalam pemilihan  lokasi  bendung. Salah satu gambaran karakter regime sungai yaitu adanya perubahan geometri sungai baik. secara horizontal ke kiri dan ke  kanan  atau  secara  vertikal  akibat  gerusan  dan  endapan  sungai.

Bendung  di  daerah  pegunungan  dimana  kemiringan  sungai  cukup  besar, akan terjadi kecenderungan gerusan akibat gaya seret aliran sungai yang cukup besar.  Sebaliknya  di  daerah  dataran  dimana  kemiringan  sungai relatif kecil akan ada pelepasan sedimen yang dibawa air menjadi endapan tinggi di sekitar bendung.

Jadi dimanapun kita memilih lokasi bendung tidak akan  terlepas  dari  pengaruh  endapan  atau  gerusan  sungai. Kecuali  di pegunungan  ditemukan lokasi bendung dengan dasar sungai dari  batuan yang cukup kuat,  sehingga  mempunyai  daya  tahan  batuan  terhadap gerusan  air yang sangat besar, maka regime sungai hampir  tidak mempunyai pengaruh terhadap lokasi bendung.

Yang  perlu  dihindari  adalah  lokasi  dimana  terjadi  perubahan  kemiringan sungai  yang  mendadak,  karena  ditempat  ini  akan  terjadi  endapan  atau gerusan yang tinggi. Perubahan kemiringan dari besar menjadi kecil akan mengurangi  gaya  seret  air  dan  akan  terjadi  pelepasan  sedimen  yang dibawa air dari hulu.

 Dan sebaliknya perubahan kemiringan dari kecil ke besar akan mengkibatkan gerusan pada hilir bendung. Meskipun keduanya dapat diatasi dengan rekayasa  hidraulik, tetapi hal yang demikan tidak disukai mengingat memerlukan biaya yang tinggi.

Untuk itu disarankan memilih lokasi yang relatif  tidak ada perubahan kemiringan sungai

Regime sungai  :  Hindari  lokasi  bendung  pada  bagian  sungai  dimana terjadi  perubahan  kemiringan  sungai  secara  mendadak,  dan  hindari bagian  sungai  dengan  belokan  tajam. Pilih bagian sungai yang lurus mempunyai kemiringan relatif tetap sepanjang penggal tertentu.

  • Tingkat kesulitan saluran induk

Lokasi bendung akan membawa akibat arah trace saluran induk. Pada saat lokasi  bendung  dipilih  dikaki  bukit,  maka  saluran  induk  biasanya  berupa saluran  kontur  pada  kaki  bukit  yang  pelaksanaannya  tidak  terlalu  sulit. Namun hal ini biasanya elevasi puncak bendung sangat terbatas, sehingga luas layanan irigasi juga terbatas. Hal ini disebabkan karena tinggi bendung dibatasi 6-7 m saja.

Untuk mengejar ketinggian dalam rangka mendapatkan luas layanan yang lebih  luas,  biasanya  lokasi  bendung  digeser  ke  hulu.  Dalam  keadaan demikian saluran induk harus  menyusuri tebing terjal  dengan galian  yang cukup tinggi. Sejauh galian  lebih kecil 8  m dan timbunan  lebih kecil 6  m, maka  pembuatan  saluran  induk  tidak  terlalu  sulit.

Namun  yang  harus diperhatikan  adalah  formasi  batuan di  lereng  dimana  saluran  induk  itu terletak.  Batuan  dalam  volume  besar  dan  digali  dengan  t eknik  peledakan akan  mengakibatkan biaya yang sangat mahal,  dan  sebisa  mungkin dihindari. Kalau dijumpai hal yang demikian, lokasi bendung digeser sedikit ke hilir untuk mendapatkan solusi yang kompromistis antara luas area yang didapat dan kemudahan pembuatan saluran induk.

Saluran induk : Pilih lokasi bendung sedemikian sehingga pembangunan saluran  induk dekat bendung tidak terlalu  sulit  dan  tidak  terlalu  mahal. Hindari  trace  saluran  menyusuri tebing terjal apalagi berbatu. Usahakan ketinggian galian tebing pada  saluran  induk  kurang  dari  8  m  dan ketinggian timbunan kurang dari 6 m.

  • Ruang untuk bangunan pelengkap bending

Meskipun  dijelaskan  dalam  butir  1  bahwa  lembah  sempit  adalah pertimbangan  topografis  yang  paling  ideal,  tetapi  juga  harus dipertimbangkan  tentang  perlunya  ruangan  untuk  keperluan  bangunan pelengkap  bendung.  Bangunan  tersebut  adalah  kolam  pengendap, bangunan  kantor  dan  gudang,  bangunan  rumah  penjaga  pintu,  saluran penguras lumpur, dan komplek pintu penguras, serta bangunan pengukur debit.

Kolam  pengendap  dan  saluran  penguras  biasanya  memerlukan panjang  300-500  m  dengan  lebar  40-60  m,  diluar  tubuh  bendung.  Lahan tambahan  diperlukan  untuk  satu  kantor,  satu  gudang  dan  2-3  rumah penjaga bendung. Pengalaman selama ini sebuah rumah penjaga bendung tidak memadai, karena penghuni tunggal akan terasa jenuh dan  cenderung meninggalkan lokasi.

Ruang  untuk  bangunan  pelengkap  :  Lokasi  bendung  harus  dapat menyediakan  ruangan  untuk  bangunan  pelengkap  bendung,  utamanya untuk kolam pengendap dan saluran penguras dengan panjang dan lebar masing-masing kurang lebih 300 – 500 m dan 40 – 60 m.

  • Luas layanan irigasi

Lokasi bendung harus dipilih sedemikian sehingga luas layanan irigasi agar pengembangan  irigasi  dapat  layak.  Lokasi  bendung  kearah  hulu  akan mendapatkan  luas  layanan  lebih  besar  bendung  cenderung  dihilirnya. Namun  demikian  justifikasi  dilakukan  untuk  mengecek  hubungan  antara tinggi luas layanan irigasi.

Beberapa bendung yang sudah definitip, kadang kadang  dijumpai  penurunan  1  m,  yang  dapat  menghemat  beaya pembangunan hanya mengakibatkan pengurangan luas beberapa puluh Ha saja.  Oleh  karena  itu  kajian  tentang  kombinasi  tinggi  bendung  dan  luas layanan irigasi perlu dicermati sebelum diambil keputusan final.

Luas layanan irigasi : Lokasi bendung harus sedemikian sehingga dapat memberikan luas layanan yang memadai terkait dengan kelayakan sistem irigasi.  Elaborasi  tinggi  bendung  (yang  dibatasi  sampai  dengan  6 -7  m), menggeser lokasi bendung ke hulu atau ke hilir, serta luas layanan irigasi harus dilakukan untuk menemukan kombinasi yang paling optimal.

Baca juga : Forum ahli bendungan.

  • Luas daerah tangkapan air

Pada sungai bercabang lokasi bendung harus dipilih sebelah hulu atau hilir cabang  anak  sungai. Pemilihan  sebelah  hilir  akan  mendapatkan  daerah tangkapan  air  yang  lebih  besar,  dan  tentunya  akan  mendapatkan  debit andalan  lebih  besar,  yang  muaranya  akan  mendapatkan  potensi  irigasi lebih  besar.  Namun  pada  saat  banjir  elevasi  deksert  harus  tinggi  untuk menampung  banjir  100  tahunan  ditambah  tinggi  jagaan  (free  board)  atau menampung debit 1000 tahunan tanpa tinggi jagaan.

Lokasi di hulu anak cabang sungai akan mendapatkan debit andalan dan debit  banjir  relatip  kecil,  namun  harus  membuat  bangunan  silang  sungai untuk membawa air di hilirnya. Kajian teknis, ekonomis, dan sosial harus’ dilakukan  dalam  memilih  lokasi  bendung  terkait  dengan  luas  daerah tangkapan air.

Lokasi  bendung  harus  dipilih  dengan mempertimbangkan luas daerah tangkapan, terkait dengan debit andalan yang didapat dan debit banjir yang mungkin terjadi menghantam bendung. Hal ini harus dikaitkan dengan luas layanan yang didapat dan ketinggian lantai layanan dan pembangunan bangunan melintang anak sungai (kalau ada).

  • Tingkat kemudahan pencapaian

Setelah lokasi bendung ditetapkan secara definitip, akan dilanjutkan tahap perencanaan detail, sebagi dokumen untuk pelaksanaan implementasinya. Dalam  tahap  pelaksanaan  inilah  dipertimbangkan  tingkat  kemudahan pencapaian  dalam  rangka  mobilisasi  alat  dan  bahan  serta  demobilisasi setelah selesai pelaksanaan fisik.

Memasuki  tahap  operasi  dan  pemeliharaan  bendung,  tingkat  kemudahan pencapaian  juga  amat  penting.  Kegiatan  pemeliharaan,  rehabilitasi,  dan inspeksi  terhadap  kerusakan  bendung  memerlukan  jalan  masuk  yang memadai untuk kelancaran pekerjaan.

Atas dasar pertimbangan tersebut maka dalam menetapkan lokasi bending harus dipertimbangkan tingkat kemudahan pencapaian lokasi.

Pencapaian  mudah : Lokasi bendung harus refatip  mudah dicapai untuk keperluan  mobilisasi alat dan bahan saat  pembangunan  fisik  maupun operasi  dan  pemeliharaan.  Kemudahan  melakukan  inspeksi  oleh  aparat pemerintah juga harus dipertimbangkan masak – masak.

  • Biaya pembangunan

Dalam  pemilihan  lokasi  bendung,  perlu  adanya  pertimbangan  pemilihan beberapa alternatif, dengan memperhatikan adanya faktor dominan. Faktor dominan  tersebut  ada  yang  saling  memperkuat  dan  ada  yang  saling melemahkan.  Dari  beberapa  alternatip  tersebut  selanjutnya dipertimbangkan  metode  pelaksanaannya  serta  pertimbangan  lainnya antara lain dari segi O & P.

Hal ini antara lain  akan menentukan besarnya beaya  pembangunan.  Biasanya  beaya  pembangunan  ini  adalah pertimbangan  terakhir  untuk  dapat  memastikan  lokasi  bendung  dan  layak dilaksanakan.

Biaya pembangunan yang efisien : dari berbagai alternatif lokasi bendung dengan  mempertimbangkan  faktor-faktor  yang  dominan,  akhirnya  dipilih lokasi  bendung  yang  beaya  konstru ksinya  minimal  tetapi  memberikan ouput yang optimal.

  • Kesepakatan stakeholder

Sesuai  amanat  dalam  UU  No.  7/2004  tentang  Sumberdaya  Air  dan Peraturan  Pemerintah  No.  20/2006  tentang  Irigasi  bahwa  keputusan penting  dalam  pengembangan  sumberdaya  air  atau  irigasi  harus didasarkan  kesepakatan  pemangku  kepentingan  lewat  konsultasi  publik.

Untuk  itu  keputusan  mengenai  lokasi  bendungpun  harus  dilakukan  lewat konsultasi  publik,  dengan  menyampaikan  seluas-luasnya  mengenai alternatif-alternatif lokasi, tinjauan dari aspek teknis, ekonomis, dan sosial. Keuntungan  dan  kerugiannya,  dampak  terhadap  para  pemakai  air  di  hilir bendung, keterpaduan antar sektor, prospek pemakaian air di masa datang harus disampaikan pada pemangku kepentingan terutama masyarakat tani yang akan memanfaatkan air irigasi.

Kesepakatan  stakeholder  : apapun keputusannya, yang penting adalah kesepakatan antar pemangku kepentingan lewat konsultasi publik. Untuk itu direkomendasikan melakukan sosialisasi pemilihan lokasi bendung.

Demikian pembahasan bendungan oleh konsultan jasa survey batimetri, untuk informasi selengkapnya hubungi 081333004422