Konsultan Jasa Survey Batimetri Jakarta – Definisi Hidrografi

Survey hidrografi adalah kegiatan pemetaan laut, pengumpulan data, kondisi dan sumber daya suatu wilayah laut yang kemudian diolah, dievaluasi dan disajikan dalam bentuk buku, peta laut serta informasi mengenai kelautan lainnya untuk selanjutnya digunakan dalam kepentingan pembangunan dan pertahanan keamanan suatu negara.

Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa Inggris “hydrography”. Secara etimologis, “hydrography” ditemukan dari kata sifat dalam bahasa Prancis abad pertengahan “hydrographique”  sebagai kata yang berhubungan dengan sifat dan pengukuran badan air, misalnya kedalaman dan arus (Merriam – Webster Online, 2004).

Hingga sekitar akhir 1980-an, kegiatan hidrografi utamanya didominasi oleh survey dan pemetaan laut untuk pembuatan peta navigasi laut (nautical chart) dan survey untuk eksplorasi minyak dan gas bumi (Ingham, 1975).

Definisi akademik untuk terminologi hidrografi, dikemukakan pertama kali oleh International Hydrographic Organization (IHO) pada Special Publication Number  32 (SP-32) tahun 1970 dan Group of Experts on Hydrographic Surveying and Nautical Charting dalam laporannya pada Second United Nations Regional Cartographic Conference for the Americas di Mexico City tahun 1979.

IHO mengemukakan bahwa hidrografi adalah “that branch of applied science which deals with measurement and description of physical featuresof the navigable por tion of earth’s surface and adjoining coastal areas, with special reference to their use for the purpose of navigation.

Group of Experts on HydrographicSurveying and Nautical Charting mengemukakan bahwa hidrografi adalah “the science of measuring, describing, and depicting nature and configuration of the seabed, geographical relationship to landmass, and characteristics and dynamics of the sea.

Perkembangan hidrografi juga mengakibatkan perubahan definisi hidrografi yang oleh IHO didefinisikan sebagai “that branch of applied sciences which deals with the measurement and description of the features of the seas and coastal areas for the primary purpose of navigation and all other marine purposes and activitie including -inter alia- offshoreactivities, research, protection of the environment and prediction services” (Gorziglia, 2004).

Data mengenai  fenomena dasar perairan dan dinamika badan air diperoleh melalui pengukuran yang kegiatannya disebut sebagai survei hidrografi. Data yang diperoleh dari survei hidrografi kemudian diolah dan disajikan sebagai informasi geospasial atau informasi yang terkait dengan posisi di muka bumi.

JASA KONSULTAN SURVEY BATHIMETRY – SURVEY HIDROGRAFI

Definisi Survey Hidrografi

Survei adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan informasi hidrografi, adapun aktivitas utama survei hidrografi meliputi :

  1. Penentuan posisi dan penggunaan sistem referensi
  2. Pengukuran kedalaman (pemeruman)
  3. arus
  4. pengambilan contoh dan analisis) sedimen
  5. Pengamatan pasut
  6. Pengukuran detil situasi dan garis pantai (untuk pemetaan pesisir)
  7. Data yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas dapat disajikan sebagaiinformasi dalam bentuk peta dan non-peta serta disusun dalam bentuk basis data kelautan.

Hasil akhir survey hidrografi adalah peta bathymetri yang didapat dari GPS map sounder  yang selanjutnya dapat digunakan sebagai :

  1. Acuan untuk menentukan kedalaman laut
  2. Mendapatkan informasi mengenai bahaya – bahaya pelayaran untuk keperluan navigasi pada daerah survei.
  3. Peta Navigasi Laut, memuat informasi penting yang diperlukan untuk menjamin keselamatan pelayaran, seperti  :
    1. Kedalaman perairan.
    1. Rambu – rambu navigasi.
    1. Garis pantai.
    1. Alur pelayaran
    1. Bahaya – bahaya pelayaran dan sebagainya.

Penggunaan sistem referensi data yang diperoleh dari aktifitas – aktifitas tersebut diatas dapat disajikan sebagai informasi dalam bentuk peta dan non peta. Selain itu, kegiatan hidrografi juga didominasi oleh penentuan posisi dan kedalaman di laut lepas yang mendukung eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi.

Tahap Pelaksanaan Survey Hidrografi

Penentuan Posisi Titik Fix Perum

Cara penentuan posisi titik fix perum dapat menggunakan kombinasi LOP (Line Of Position, LOP adalah likasi atau keberadaan) titik – titik dari suatu pengamat yang memiliki satu besaran pengamatan tetap dari titik referensi yang telah ditentukan posisinya yang dapat berupa;

  1. Arah.
  2. Jarak
  3. Sudut atau beda jarak.

Prinsip dasar yang digunakan pada kombinasi LOP garis – garis sama dengan interseksi atau pengikatan kemuka pada ilmu ukur tanah. Metode ikatan kemuka yang diterapkan dalam penentuan posisi ini mengacu pada titik di darat yang telah diketahui koordinatnya.

Pemeruman

Desain Lajur Perum

Pemeruman dilakukan dengan membuat profil (potongan) pengukuran kedalaman. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-lingkaran konsentrik, ataulainnya sesuai metode yang digunakan untuk penentuan posisi titik-titik fiks perumnya. Lajur – lajur perum didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan pendeteksianperubahan kedalaman yang lebih ekstrem.

Karena itu, desain lajur-lajur perum harus memperhatikan kecenderungan bentuk dan topografi pantai sekitar perairan yang akan disurvei. Agar mampu mendeteksi perubahan kedalaman yang lebih ekstrem lajur perumdipilih dengan arah yang tegak lurus terhadap kecenderungan arah garis pantai.

Dari pengukuran kedalaman di titik-titik fiks perum pada lajur-lajur perum yang telahdidesain, akan didapatkan sebaran titik-titik fiks perum pada daerah survei yang nilai – nilai pengukuran kedalamannya dapat dipakai untuk menggambarkan batimetri yang diinginkan. Berdasarkan sebaran angka – angka kedalaman pada titik – titik fiks perum itu, batimetri perairan yang disurvei dapat diperoleh dengan menarik garis – garis kontur kedalaman. Penarikan garis kontur kedalaman dilakukan dengan membangun grid dari sebaran data kedalaman. Dari grid yang dibangun, dapat ditarik garis – garis yang menunjukkan angka – angka kedalaman yang sama.

Prinsip Penarikan Garis Kontur

Teknik yang paling sederhana untuk menarik garis kontur adalah dengan teknik triangulasi menggunakan interpolasi linier. Grid dengan interval yang seragam dibangundi atas sebaran titik-titik tersebut. Nilai kedalaman di setiap titik-titik grid dihitungberdasarkan tiga titik kedalaman terdekat dengan pembobotan menurut jarak. Dariangka-angka kedalaman di setiap titik-titik grid, dapat dihubungkan dari titik-titik yangmempunyai nilai kedalaman yang sama.

Metode Pengukuran Kedalaman

Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pemeruman yang menurut prinsip dan karakter teknologi yang digunakan dapat dilakukan dengan metode mekanik, optik atau akustik. Dalam kegiatan ini digunakan metode akustik untuk pengukuran kedalaman, penggunaan gelombang akustik untuk pengukuran – pengukuran bawah air (termasuk : pengukuran kedalaman, arus, dan sedimen) merupakan teknik yang paling populer dalam hidrografi pada saat ini.

Gelombang akustik dengan frekuensi 5 kHz atau 100 Hz akanmempertahankan kehilangan intensitasnya hingga kurang dari 10% pada kedalaman 10 km,Sedangkan gelombang akustik dengan frekuensi 500 kHz akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman kurang dari 100 m. Untuk pengukuran kedalaman, digunakan echosounder atau perum gema yang pertama kali dikembangkan di Jerman tahun 1920 (Lurton,2002).

Alat ini dapat dipakai untuk menghasilkan profil kedalaman yang kontinyu sepanjang lajur perum dengan ketelitian yang cukup baik. Alat perum gema menggunakan prinsip pengukuran jarak dengan memanfaatkan gelombang akustik yang dipancarkan dari tranduser.

Tranduser adalah bagian dari alat perum gema yang mengubah energi listrik menjadi mekanik (untuk membangkitkan gelombang suara) dan sebaliknya. Gelombang akustik tersebut merambat pada medium air dengan cepat rambat yang relatif diketahui atau diprediksi hingga menyentuh dasar perairan dan dipantulkan kembali ke transduser.

d = ½ (vΔt)

dimana:

du = kedalaman hasil ukuran

v = kecepatan gelombang akustik pada medium air

Δt = selang waktu sejak gelombang dipancarkan dan diterima kembali

Untuk pemilihan echosounder, faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagaiberikut :

  1. kedalaman maksimum daerah yang disurvei
  2. Sudut pancaran pulsa

Jenis echosounder berdasarkan kemampuan kedalaman yang dapat dicapai adalah :

  1. Jenis echosounder laut dangkal
  2. Echosounder laut dalam

Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai

Detil situasi yang dimaksud disini adalah unsur-unsur yang terdapat di sepanjang pantai, yang sering kali ikut tergambarkan pada peta – peta laut. Untuk keperluan pelayaran, detilsituasi dibutuhkan oleh pelaut untuk melakukan navigasi secara visual. Artinya, detil tersebut dibutuhkan oleh pelaut untuk membantunya dalam penentuan posisi kapal.

Seberapa jauh detil yang harus diukur untuk keperluan pembuatan peta laut sangat tergantung dari tujuan pembuatan peta lautnya. Semakin besar skala peta yang akan dibuat, akan semakin rapat detil situasi yang harus diukur.

Garis Pantai Garis pantai merupakan garis pertemuan antara pantai (daratan) dan air (laut). Walaupun secara periodik permukaan air laut selalu berubah, suatu tinggi muka airtertentu yang tetap harus dipilih untuk menjelaskan fisik garis pantai. Pada peta laut biasanya digunakan garis air tinggi (high water line) sebagai garis pantai. Sedangkan untuk acuan kedalaman biasanya digunakan garis air rendah (low water line)

Pengukuran Detil Situasi dan Garis PantaiPengukuran detil situasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data detil padapermukaan bumi (unsur alam maupun buatan manusia) yang diperlukan bagipelaksanaan pemetaan situasi yang bertujuan memberikan gambaran situasi secaralengkap pada suatu daerah di sepanjang pantai dengan skala tertentu untuk berbagai keperluan.

Sedangkan pengukuran garis pantai dimaksudkan untuk memperoleh garispemisah antara daratan (permukaan bumi yang tidak tergenang) dan lautan (permukaanbumi yang tergenang). Pada dasarnya pengukuran detil situasi dan garis pantai jugamerupakan kegiatan penentuan posisi titik-titik detil sepanjang topografi pantai danteknik-teknik yang terletak pada garis pantai.

Salah satu metode untuk melakukan pengukuran garis pantai dapat digunakan metodetachimetri. Metode tachimetri merupakan metode yang paling sering digunakan untuk pemetaan daerah yang luas dengan detil yang tidak beraturan. Untuk melakukan pengukuran titik detil tersebut diperlukan suatu kerangka dasar. Kerangka dasar merupakan titik yang diketahui koordinatnya dalam sistem tertentu yang mempunyai fungsi sebagai pengikat dan pengontrol ukuran baru.

Mengingat fungsinya, titik – titk kerangka dasar harus ditempatkan menyebar merata diseluruh daerah yang akan dipetakkan dengan kerapatan tertentu. Terdapat dua macam titik kerangkadasar, yaitu kerangka dasar horisontal dan kerangka dasar vertikal. Dengan adanya titik-titik kerangka dasar maka koordinat titi detil untuk pengukuran garis pantai dapatdihitung dengan sistem koordinat yang sama dengan kerangka dasar tersebut.

Pengamatan Pasut

Pasang surut (Pasut) adalah perubahan kedudukan permukaan air laut yang berupa naik dan turunnya permukaan air laut. Maloney mendefinisikan pasut dengan “the verticalrise and fall of the ocean level due to gravitional forces between earth and moon, and, to lasser extent, the sun” (1985)

Sedangkan IHO sendiri mendefinisikan “the periodic rise and fall of the surface of ocean, bays, etc., due principally to the gravitional attraction of the moon and sun for the rotating earth” (1974).

Gerakan pasut mengakibatkan gerakan mendatar, yangdirasakan terutama pada daerah yang sempit, seperti selat dan danau, gerakan ini dikenal sebagai arus pasut

Arus pasut terjadi karena adanya gaya tarik benda – benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Fenomena alam tersebut merupakan gerakan periodik, maka pasang surut dan perubahan elevasi air laut yang ditimbulkan dapat dihitung dan diprediksikan, sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti :

  1. Navigasi yang aman pada alur pelayaran yang sempit dan strategis, contoh Selat Malaka dimana sekitar 75 ribu kapal berlalu lalang setiap tahunnya
  2. Tata pelabuhan serta metode pengoperasiannya secara efisien
  3. Pengembangan daerah tambak untuk budidaya berbagai komoditas perikanan
  4. Memperkirakan arus pasang surut yang erat kaitannya dengan pencemaran laut terutama minyak (oil spills)
  5. Penelitian tentang frekuensi dari variasi abnormal dari paras laut yang berhubungan erat dengan pertahanan pantai (break water, groin, dll) maupun pembuangan limbah industry.
  6. Menyediakan informasi penunjang untuk mengetahui fenomena gelombang pasang yang disebabkan oleh badai maupun gempa yang mengakibatkan tsunami.
  7. Mempelajari perubahan iklim secara global seperti El Nino. Isu internasional tentang pemanasan global berakibat pada mencairnya es dikutub yang menambah tinggi permukaan laut, sangat mungkin dapat di pantau dengan pengamatan pasut yang dilakukan secara baik, pada tempat yang tetap, berkesinambungan dan dalam waktu lama.
  8. Menentukan permukaan air laut rata-rata (MLR) dan ketinggian titik ikat pasut (tidal datum plane) lainnya untuk keperluan survai dan rekayasa dengan melakukan satu sistem pengikatan terhadap bidang referensi tersebut.
  9. Memberikan data yang tepat untuk studi muara sungai tertentu.

Pengamatan pasut dilakukan untuk mendapatkan model tinggi muka air laut disuatu titik dengan mengambil contoh data tinggi muka air laut pada selang waktu tertentu. Alat yang paling sederhana yang digunakan untuk melakukan pengamatan pasut adalah palem atau rambu pasut. Pada dasarnya pengamatan pasut dilakukan dengan cara mengukur tinggi muka air laut terhadap suatu acuan tertentu, yaitu stasiun pengamat pasut. Oleh karena itu harus dilakukan pengikatan palem dengan stasiun pengamat pasut.

Pengikatan pengamatan pasut ditujukan untuk menentukan posisi horisontal titik pengamat pasut dan utamanya selisih tinggi palem terhadap titik ikat (BM). Selisih tinggi palem terhadap BM nantinya akan digunakan untuk mendefinisikan tinggi BM itu sendiri setelah bidang referensi kedalaman ditentukan dari pengamatan pasut.

Jasa Survey Batimetri Jakarta

Reduksi kedalaman laut

Hasil pengukuran pemeruman berupa kertas grafik kedalaman dasar laut ( koordinat Z), hasil ini harus dikoreksi dengan hasil pengamatan pasang surut selama pengukuran, serta tinggi acuan yang di gunakan (lihat gambar 2.12)

Gambar 5. Reduksi Elevasi Hasil Pemeruman

Elevasi titik fix dapat ditulis sebagai berikut :Elevasi titik fix = h – r + p

 – 

dimana :

h = Elevasi titik BM terhadap referensi tinggi yang dipakai (m)

p = bacaan pasut (m)r = beda tinggi antara BM dengan nol pasut hasil pengukuran waterpas

d = kedalaman air laut saat penentuan posisi titik fix.

Pengukuran beda tinggi (levelling)

Kerangka kontrol vertikal merupakan kumpulan titik – titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya terhadap sebuah datum ketinggian. Datum ketinggian ini dapat berupa ketinggian muka air laut rata – rata (mean sea level – MSL) atau ditentukan lokal. Tinggi adalah perbedaan vertikal atau jarak tegak dari suatu bidang referensi yang telah ditentukan terhadap suatu titik sepanjang garis vertikalnya.

Cara mendapatkan tingi suatu titik perlu dilakukan pengukuran beda tinggi antara suatu titik terhadap titik yang telah diketahui tingginya dengan mempergunakan alat sipat datar. Pengukuran kerangka kontrol vertikal bertujuan untuk menentukan tinggi titik – titik yang dicari (koordinat vertikal) terhadap bidang referensi.

Global Positining System (GPS)

GPS (Global Positioning System) adalah sistem navigasi yang berbasiskan satelit yang saling berhubungan yang berada di orbitnya. Satelit – satelit itu milik Departemen Pertahanan (Departemen of Defense) Amerika Serikat yang pertama kali diperkenalkan mulaitahun 1978 dan pada tahun 1994 sudah memakai 24 satelit.

Untuk dapat mengetahui posisi seseorang maka diperlukan alat yang diberinama GPS reciever yang berfungsi untuk menerima sinyal yang dikirim dari satelit GPS. Posisi di ubah menjadi titik yang dikenal dengan nama Way – point nantinya akan berupa titik – titik koordinat lintang dan bujur dariposisi seseorang atau suatu lokasi kemudian di layar pada peta elektronik.

Sejak tahun 1980, layanan GPS yang dulunya hanya untuk leperluan militer mulai terbuka untuk publik. Uniknya, walau satelit-satelit tersebut berharga ratusan juta dolar, namun setiap orang dapat menggunakannya dengan gratis, satelit – satelit ini mengorbit pada ketinggian sekitar 12.000 mil dari permukaan bumi.

Posisi ini sangat ideal karena satelit dapat menjangkau area coverage yang lebih luas, satelit – satelit ini akan selalu berada posisi yang bisa menjangkau semua area di atas permukaan bumi sehingga dapat meminimalkan terjadinya blank spot (area yang tidak terjangkau oleh satelit).

GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit.  Nama formalnya adalah NAVSTAR GPS (Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning System).

GPS didesain untuk memberikan informasi posisi, kecepatan dan waktu. Pada dasarnya GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu:

  1. Angkasa (space segment )Terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam 6 orbit dengan inklinasi 55 danketinggian 20200 km dan periode orbit 11 jam 58 menit.
  2. Sistem control (control system segment) Mempunyai tanggung jawab untuk memantau satelit GPS supaya satelit GPS dapat tetap berfungsi dengan tepat. Misalnya untuk sinkronisasi waktu, prediksi orbit dan monitoring “kesehatan” satelit.
  3. Pemakai, (user segment)  Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut maupun udara, yangmenggunakan receiver GPS untuk mendapatkan sinyal GPS sehingga dapat menghitung posisi, kecepatan, waktu dan parameter lainnya.

Penentuan Posisi dengan GPS

Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan kebelakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan oleh GPS adalah posisi 3dimensi (x,y,z atau,h) yang dinyatakan dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984. Sedangkan tinggi yang diperoleh adalah tinggi ellipsoid.

GPS secara umum bergantung pada 4 faktor :

  1. Ketelitian data tipe data yang digunakan.
  2. Kualitas receiver  GPS level dari kesalahan dan bias geometri satelit  jumlah satelit lokasi dan distribusi satelit lama pengamatan.
  3. Metode penentuan posisi absolute dan differensial positioning static, rapid static, pseudo kinematic, stop and go, kinematic one dan multi monitor stationd,

Strategi pemrosesan data real – time dan post processin strategi eliminasi dan pengkoreksian kesalahan dan bias metode estimasi yang digunakan pemrosesan baseline dan perataan jaring.

Demikian informasi mengenai pekerjaan jasa survey batimetri di Jakarta. silakan menghubungi kami di whatsapp

Jasa Pengukuran Tanah
Konsultan Survey Batimetri
Jasa ukur lahan
Konsultan Survey Batimetri
Hasil pekerjaan yg luar biasa
Kami adalah JASA KONSULTAN SURVEY BATIMETRI, SURVEY HIDORGRAFI, BATHIMETRY SURVEYING JAKARTA 0813-3300-4422
Admin jasa survey topografi
JONI PRAMITA
Joni Pramita
JONI PRAMITA