TAHAP PEKERJAAN KONSULTAN SURVEY BATIMETRI SUNGAI

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang pekerjaan konsultan survey batimetri maka berikut kami sampaikan tahapan survey batimetri sebagai berikut :

Survey Pendahuluan survey batimetri sungai

Menentukan batas-batas lokasi pekerjaan yang perlu diukur dan BM/CP sebagai referensi kegiatan pengukuran (bila tidak ditemukan, dapat menggunakan GPS sebagai alat bantu pada bangunan tetap yang ada (misal: jembatan).

Pemasangan BM/CP

Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemasangan Bench Mark (BM) dan Control Point (CP) di lapangan antara lain :

  • Bench Mark (BM) dibuat dengan ukuran 20x20x100 cm dan sepatu ukuran 40x40x 15 cm.
  • BM dipasang pada tempat yang stabil, aman dari gangguan, mudah dicari, dicat biru dan diberi notasi yang berurutan.
  • Setiap B M yang dipasang harus difoto, dibuat skets yang jelas, diberi nama kampung, nama desa dan dicantumkan nilai (x,y,z) serta dibuat deskripsinya.
  • Pemasangan B M akan direncanakan kerapatan dan mendapat persetujuan Direksi/Supervisi Pengukuran, sehingga memenuhi persyaratan pada kerangka setiap 2,0 Km dan pada tiap titik simpul
  • Jumlah B M sebanyak 5 (lima) buah.
  • Jumlah CP sebanyak 5 (lima) buah.

Pemasangan titik tugu Bench Mark/BM dilakukan untuk sebagai titik referensi atau titik kontrol tanah (B M GCP). Pada pekerjaan pemetaan topografi dengan pemotretan udara tanpa avvak ( U A V ) , jumlah B M sebanyak 6 titik.Pemotretan Udara U A V

Pemotretan Udara U A V

Pemotretan udara U A V pada pekerjaan pemetaan topografi dengan pemetaan udara tanpa awak ( U A V ) , diproses secara automatic dengan perangkat software Agisoft. Peta foto dicetak dengan perangkat software Agisoft. Peta foto dicetak dengan kertas dan disimpan dalam format digital dalam HD.

foto survey batimetri sungai, sumber foto : sda pu

Perekaman Video

Perekaman video menggunakan kamera kompak Cannon dengan ukuran frame video adalah VGA 600 x 400 pixel, Format Video dalam format Windows Movie Format. Perekaman dilakukan sebagai dokumentasi pekerjaan.

Peta Foto dan Peta Garis

Peta foto dan peta garis (topografi) Hasil pekerjaan pemetaan topografi dengan pemotretan udara tanpa awak ( U A V ) , peta format 1,25′ skala 1 : 5.000, Peta garis / topografi skala 1 : 5000, Peta foto 1 :5.000. Peta foto dan peta garis dicetak dengan printer digital pada peta foto menggunakan kertas HVS. Data digital direkam dalam HD.

Model 3 D

Model 3D lahan hasil pekerjaan pemetaan topografi dengan pemotretan udara tanpa awak (UAV ) disimpan dalam eksternal harddisk dalam format minimal full HD.

KKH & KKV

  1. secara umum mengacu pada PT-02, Persyaratan Teknis bagian Pengukuran Topografi dan Pd T-10-2004-A, Pedoman TeknisPengukuran dan Pemetaan Terestris Sungai, dan secara khusus mengacu pada SNI 19-6724-2002, Jaring Kontrol Horisontal, sedangkan kerangka vertikal mengacu pada SNI 19-6988-2004, Jaring Kontrol Vertikal dengan Metode Sipat Datar. Peralatan yang digunakan untuk keperluan pengukuran kerangka kontrol harus mendapatkan sertifikat terkalibrasi.
  2. Pengukuran Kerangka Horisontal

Pengukuran kerangka kontrol horisontal menggunakan spesifikasi orde-4 (poligon), Titik kerangka poligon diikatkan ke Sistem Referensi Geodesi Indonesia (SRGI) 2013, dengan menggunakan GPS Geodetik

GPS Geodetik

Metode pengamatan GPS adalah survai GPS secara radial yang terikat pada Sistem Referensi Geodesi Indonesia 2013 (SRGI 2013). Pengamatan GPS dilakukan pada B M , sebagai kontrol koordinat pemetaan, jumlah titik GPS yang diamati minimal 4 titik, dengan memperhatikan kekuatan geometri satelit dan konfigurasi jaringan untuk pemetaan. Adapun ketentuan untuk pengamatan GPS adalah sebagai berikut (mengacu pada SNI 19-6724-2002-Jaring Kontrol Horisontal)

Pengukuran pemetaan situasi

Pengukuran mengacu pada PT-02, Persyaratan Teknis bagian Pengukuran Topografi dan Pd T-10-2004-A, Pedoman Teknis Pengukuran dan Pemetaan Terestris Sungai, bab 4.2.4 Pengukuran situasi. Detil situasi yang diukur mengacu pada KP – 07, KriteriaPerencanaan bagian Standar Penggambaran, terkait dengan tema dan unsur yang ditampilkan dalam peta.

Long section & Cross section

Pengukuran memanjang mengikuti trase/jalur sungai/saluran, ketentuan pengukuran memanjang adalah sebagai berikut:

NoUraianKetetntuan
1Alat yang digunakanWaterpass otomatik
2sensitivitas nivo10″
3interval pembacaan rambu10 mm
4pencatatan pembacaan rambu terkecil1 mm
5jarak pandang maksimum antara alat ukur sipat datar dan rambu pengukuran jarak antar rambu optic80 meter
6beda jarak maksimum sipat datar ke rambu muka dan belakang dalam satu slag Pengukuran pergi – pulang ya, diusahakan slag genapMaksimal 3%
Tabel ketentuan long section dan cross section survey batimetri sungai

Pengukuran melintang sungai / saluran mengacu pada:

  1. PT – 02, Persyaratan Teknis bagian Pengukuran Topografi dan
  2. Pd T – l 0-2004-A Pd T-10-2004-A,
  3. Pedoman Teknis Pengukuran dan Pemetaan Terestris Sungai, bab. 4.2.5. Pengukuran penampang melintang sungai.

Cross Section

Ketentuan pengukuran melintang adalah sebagai berikut:

  1. Arah penampang melintang yang diukur diusahakan tegak lurus alur sungai/saluran.
  2. Batas pengambiian detail di areal tepi kiri dan di areal tepi kanan sesuai dengan ketentuan garis sempadan atau pada jarak 50 m dari kedua sisi sungai/saluran, atau sesuai dengan keperluan desain.
  3. Apabila di areal tepi kiri atau di areal tepi kanan sungai/saluran terdapat bangunan permanen seperti halnya rumah, maka letak batas dan ketinggian lantai rumah tersebut harus diukur, dan diperlakukan sebagai detail irisan melintang.
  4. Pengambiian titik-titik  tinggi tiap jarak  10 meter pada profil melintang atau pada tiap beda tinggi 0.25 meter, mana yang lebih dahulu ditemui.
  5. Kerapatan titik-titik ketinggian pada interval jarak memanjang 10 m, dengan jarak 50 m dari as bendung, dan kerapatan 25 m, setelah jarak 50 m dari as bendung sampai dengan jarak memanjang pengukuran yang ditentukan pada bangunan Bendung.
  6. Pada lengkungan saluran/alur sungai pengambiian data melintang pada interval jarak 25 m memanjang saluran/alur sungai atau sesuai dengan kebutuhan data yang diperlukan, menurut arahan Ahli SDA atau Direksi.
  7. Untuk rencana bangunan pelengkap atau bangunan lainnya, interval jarak memanjang pengambiian data melintang sesuai dengan petunjuk Ahli SDA atau Direksi.

Perhitungan  Data  Ukur

Hasil pengukuran dan cara perhitungan harus sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)

Penggambaran

Dalam penggambaran digunakan simbol-simbol, garis dan arsiran gambar harus jelas dan bisa dipahami. Dan setiap bagian dari bangunan harus tampak disertai detail yang ditunjukkan seperlunya.

  1. Potongan melintang selalu digambar berurutan dari sudut kiri atas gambar ke bawah, sesudah itu deretan tengah dan deretan kanan dipakai dari atas ke bawah.
  2. Dalam satu gambar potongan melintang hanya akan ditunjukkan untuk satu ruas sungai, tidak boleh dicampur dengan bangunan.
  3. Blok judul akan dipakai dalam semua gambar dan letaknya disudut kanan bawah tiap – tiap gambar (untuk bentuknya lihat KP-07).
  4. Semua gambar pengukuran digambar menggunakan komputer (software AutoCAD) dan dicetak dengan ukuran kertas kalkir A l .

Gambar-gambar harus berskala, dimensi dalam meter, sentimeter atau milimeter tergantung pada apa yang akan ditunjukkan dalam gambar serta lembar standar yang dipakai kertas ukuran A – l .

Demikian mengenai survey batimetri kedalaman sungai atau survey batimetri kedalaman laut. untuk konsultasi mengenai survey batimetri sungai bisa klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *